Sabtu, 11 Juli 2026

Back to the Roots: Menelusuri Jejak Keluarga dari Tegalsari

 


*Aziza Restu Febrianto

Berdasarkan buku silsilah keluarga yang disampaikan pada acara Reuni Keluarga Besar Bani Oelomo dan Abdul Manan pada tahun 2024, 2025, dan 2026, garis keturunan keluarga kami bermula dari Kiai Ageng Muhammad Besari, pendiri Pesantren Tegalsari di Jetis, Ponorogo, yang hidup pada abad ke-18. Beliau merupakan putra kedua Ki Ageng Anom Besari, atau lebih dikenal dengan julukan Kiai Nggrabahan, seorang tokoh penyebar agama Islam pada abad ke-17 sekaligus bangsawan yang diyakini merupakan keturunan ke-14 Raja Majapahit, Raden Wijaya.

Dalam sejarah Islam di Jawa, Kiai Ageng Muhammad Besari dikenal sebagai salah satu ulama paling berpengaruh di Jawa Timur. Pesantren Tegalsari yang beliau dirikan berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak ulama, pemimpin masyarakat, dan tokoh penting dari berbagai daerah di Nusantara. Dari pesantren inilah lahir tradisi keilmuan yang diwariskan secara turun-temurun hingga lintas generasi.

Dari sembilan putra-putri Kiai Ageng Muhammad Besari, garis keturunan keluarga kami bertemu melalui empat cabang utama, yaitu Nyai Buchori (putri keempat), Kiai Iskak (putra kelima), Kiai Cholifah (putra keenam), dan Kiai Muhammad Ilyas (putra ketujuh).

Trah Nyai Buchori (Putri Keempat)

Nyai Buchori memiliki enam orang putra dan putri. Putra keempat beliau, Kiai Jusuf, kemudian menikah dengan putri keempat Kiai Iskak, putra kelima Kiai Ageng Muhammad Besari dari istri pertamanya. Pernikahan ini menjadi salah satu titik penting yang mempertemukan dua cabang keturunan Kiai Ageng Muhammad Besari dalam garis keluarga kami.

Trah Kiai Iskak (Putra Kelima)

Dari pernikahan Kiai Jusuf dan putri Kiai Iskak lahirlah dua putra, yaitu Kiai Imam Mursad yang menetap di Coper, Ponorogo, dan Kiai Ilhar (Idhar) yang menetap di Sooko, Mojokerto.

Kiai Imam Mursad kemudian memiliki lima orang putra. Putra keduanya, Kiai H. Abdurrahman, menetap di Jogorogo, Kabupaten Ngawi, dan menjadi tokoh penting dalam sejarah keluarga kami. Dari jalur inilah keluarga besar Bani Oelomo dan Abdul Manan berkembang di wilayah Jogorogo. Bagi penulis, Kiai H. Abdurrahman merupakan kakek canggah dari garis keturunan ibu.

Trah Kiai Cholifah (Putra Keenam)

Kiai Cholifah memiliki tujuh orang keturunan. Putra keenam beliau, R. Imam Soebaweh, yang tinggal di Tegalsari, merupakan mata rantai penting dalam silsilah keluarga kami.

R. Imam Soebaweh memiliki seorang putra bernama R. Djojo Besari, yang kemudian memiliki empat orang anak. Putri bungsunya, R. Ngt. Samratun, menikah dengan Kiai Kasan Prawiro dan menetap di Semanding, Ponorogo.

Menariknya, Kiai Kasan Prawiro merupakan putra keempat Kiai Imam Khasani, tokoh yang berasal dari jalur keturunan Kiai Muhammad Ilyas. Dengan demikian, pada generasi ini kembali terjadi pertemuan dua cabang besar keturunan Kiai Ageng Muhammad Besari.

Trah Kiai Muhammad Ilyas (Putra Ketujuh)

Cabang berikutnya berasal dari Kiai Muhammad Ilyas, putra ketujuh Kiai Ageng Muhammad Besari.

Dari jalur ini lahir Kiai Syihabuddin, yang kemudian memiliki putra bernama Kiai Imam Khasani. Putri ketiga Kiai Imam Khasani kemudian menikah dengan Kiai H. Abdurrahman, tokoh yang menjadi kunci berkembangnya keluarga kami di Jogorogo, Ngawi.

Pernikahan tersebut menghasilkan tujuh orang anak. Garis keturunan penulis berasal dari putra pertama mereka, yaitu Kusni Imam Oelomo, seorang naib di Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi. Dari beliau inilah keluarga besar kami terus berkembang hingga beberapa generasi berikutnya.

Jalur Ibu Penulis

Ibu penulis, Ny. Badrijah, merupakan putri kedua dari pasangan Muhammad Zainuddin dan Ny. Aminatun. Muhammad Zainuddin adalah putra keempat Kusni Imam Oelomo, yang merupakan putra sulung Kiai H. Abdurrahman.

Melalui jalur inilah silsilah keluarga penulis dapat ditelusuri secara berkesinambungan hingga mencapai Kiai Ageng Muhammad Besari di Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Dengan demikian, ibu penulis merupakan salah satu keturunan Kiai Ageng Muhammad Besari melalui perpaduan beberapa cabang trah keluarga yang saling bertemu dalam perjalanan sejarah. Bagi keluarga kami, silsilah ini bukan sekadar rangkaian nama atau bagan keturunan. Di balik setiap nama tersimpan kisah perjuangan, pengabdian, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi selama lebih dari dua abad.

Jika dicermati, sebagian besar tokoh dalam silsilah keluarga ini merupakan kiai, penghulu, modin, guru agama, maupun tokoh masyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa warisan terbesar yang ditinggalkan para leluhur bukanlah kedudukan sosial ataupun kebangsawanan, melainkan tradisi keilmuan, kepemimpinan, serta pengabdian kepada agama dan masyarakat.

Nilai-nilai inilah yang patut dijaga oleh generasi penerus. Menjadi keturunan Kiai Ageng Muhammad Besari bukanlah alasan untuk merasa lebih mulia daripada orang lain. Sebaliknya, silsilah ini merupakan amanah untuk terus menjaga akhlak, menuntut dan menyebarkan ilmu, mempererat persaudaraan, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat sebagaimana telah dicontohkan oleh para leluhur.

Foto - foto saat berkunjung ke Pesantren Tegalsari, Jetis, Ponorogo 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar