Berdasarkan
buku silsilah keluarga yang disampaikan pada acara Reuni Keluarga Besar Bani
Oelomo dan Abdul Manan pada tahun 2024, 2025, dan 2026, garis keturunan
keluarga kami bermula dari Kiai Ageng Muhammad Besari, pendiri Pesantren Tegalsari di Jetis,
Ponorogo, yang hidup pada abad ke-18. Beliau merupakan putra kedua Ki Ageng Anom Besari,
atau lebih dikenal dengan julukan Kiai
Nggrabahan, seorang tokoh penyebar agama Islam pada abad ke-17
sekaligus bangsawan yang diyakini merupakan keturunan ke-14 Raja Majapahit,
Raden Wijaya.
Dalam
sejarah Islam di Jawa, Kiai Ageng Muhammad Besari dikenal sebagai salah satu
ulama paling berpengaruh di Jawa Timur. Pesantren Tegalsari yang beliau dirikan
berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak ulama,
pemimpin masyarakat, dan tokoh penting dari berbagai daerah di Nusantara. Dari
pesantren inilah lahir tradisi keilmuan yang diwariskan secara turun-temurun
hingga lintas generasi.
Dari
sembilan putra-putri Kiai Ageng Muhammad Besari, garis keturunan keluarga kami
bertemu melalui empat cabang utama, yaitu Nyai Buchori (putri keempat), Kiai Iskak (putra
kelima), Kiai Cholifah
(putra keenam), dan Kiai
Muhammad Ilyas (putra ketujuh).
Trah Nyai Buchori (Putri Keempat)
Nyai
Buchori memiliki enam orang putra dan putri. Putra keempat beliau, Kiai Jusuf, kemudian
menikah dengan putri keempat Kiai
Iskak, putra kelima Kiai Ageng Muhammad Besari dari istri
pertamanya. Pernikahan ini menjadi salah satu titik penting yang mempertemukan
dua cabang keturunan Kiai Ageng Muhammad Besari dalam garis keluarga kami.
Trah
Kiai
Iskak (Putra Kelima)
Dari
pernikahan Kiai Jusuf dan putri Kiai Iskak lahirlah dua putra, yaitu Kiai Imam Mursad yang
menetap di Coper, Ponorogo, dan Kiai
Ilhar (Idhar) yang menetap di Sooko, Mojokerto.
Kiai
Imam Mursad kemudian memiliki lima orang putra. Putra keduanya, Kiai H. Abdurrahman,
menetap di Jogorogo, Kabupaten Ngawi, dan menjadi tokoh penting dalam sejarah
keluarga kami. Dari jalur inilah keluarga besar Bani Oelomo dan Abdul Manan
berkembang di wilayah Jogorogo. Bagi penulis, Kiai H. Abdurrahman merupakan kakek canggah dari garis
keturunan ibu.
Trah
Kiai
Cholifah (Putra Keenam)
Kiai
Cholifah memiliki tujuh orang keturunan. Putra keenam beliau, R. Imam Soebaweh, yang
tinggal di Tegalsari, merupakan mata rantai penting dalam silsilah keluarga
kami.
R.
Imam Soebaweh memiliki seorang putra bernama R. Djojo Besari, yang kemudian memiliki
empat orang anak. Putri bungsunya, R.
Ngt. Samratun, menikah dengan Kiai Kasan Prawiro dan menetap di
Semanding, Ponorogo.
Menariknya,
Kiai Kasan Prawiro merupakan putra keempat Kiai Imam Khasani, tokoh yang berasal dari
jalur keturunan Kiai
Muhammad Ilyas. Dengan demikian, pada generasi ini kembali
terjadi pertemuan dua cabang besar keturunan Kiai Ageng Muhammad Besari.
Trah
Kiai
Muhammad Ilyas (Putra Ketujuh)
Cabang
berikutnya berasal dari Kiai
Muhammad Ilyas, putra ketujuh Kiai Ageng Muhammad Besari.
Dari
jalur ini lahir Kiai
Syihabuddin, yang kemudian memiliki putra bernama Kiai Imam Khasani. Putri
ketiga Kiai Imam Khasani kemudian menikah dengan Kiai H. Abdurrahman,
tokoh yang menjadi kunci berkembangnya keluarga kami di Jogorogo, Ngawi.
Pernikahan
tersebut menghasilkan tujuh orang anak. Garis keturunan penulis berasal dari
putra pertama mereka, yaitu Kusni
Imam Oelomo, seorang naib di Kecamatan Jogorogo, Kabupaten
Ngawi. Dari beliau inilah keluarga besar kami terus berkembang hingga beberapa
generasi berikutnya.
Jalur Ibu Penulis
Ibu
penulis, Ny. Badrijah,
merupakan putri kedua dari pasangan Muhammad
Zainuddin dan Ny.
Aminatun. Muhammad Zainuddin adalah putra keempat Kusni Imam Oelomo, yang
merupakan putra sulung Kiai H. Abdurrahman.
Melalui
jalur inilah silsilah keluarga penulis dapat ditelusuri secara berkesinambungan
hingga mencapai Kiai Ageng Muhammad Besari di Tegalsari, Jetis, Ponorogo.
Dengan demikian, ibu penulis merupakan salah satu keturunan Kiai Ageng Muhammad
Besari melalui perpaduan beberapa cabang trah keluarga yang saling bertemu
dalam perjalanan sejarah. Bagi keluarga kami, silsilah ini bukan sekadar
rangkaian nama atau bagan keturunan. Di balik setiap nama tersimpan kisah
perjuangan, pengabdian, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi
ke generasi selama lebih dari dua abad.
Jika
dicermati, sebagian besar tokoh dalam silsilah keluarga ini merupakan kiai,
penghulu, modin, guru agama, maupun tokoh masyarakat. Hal tersebut menunjukkan
bahwa warisan terbesar yang ditinggalkan para leluhur bukanlah kedudukan sosial
ataupun kebangsawanan, melainkan tradisi keilmuan, kepemimpinan, serta
pengabdian kepada agama dan masyarakat.
Nilai-nilai
inilah yang patut dijaga oleh generasi penerus. Menjadi keturunan Kiai Ageng
Muhammad Besari bukanlah alasan untuk merasa lebih mulia daripada orang lain.
Sebaliknya, silsilah ini merupakan amanah untuk terus menjaga akhlak, menuntut
dan menyebarkan ilmu, mempererat persaudaraan, serta menghadirkan manfaat bagi
masyarakat sebagaimana telah dicontohkan oleh para leluhur.
Foto - foto saat berkunjung ke Pesantren Tegalsari, Jetis, Ponorogo





Tidak ada komentar:
Posting Komentar