Tampilkan postingan dengan label My Books and Papers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Books and Papers. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Juni 2021

Teachers’ and Students' Scaffolding in Second Language Learning [Scientific Article]

My article published by the Education and Linguistics Knowledge Journal of Universitas Islam Kadiri by the end of 2019.


 Teachers’ and Students' Scaffolding in Second Language Learning

*Aziza Restu Febrianto


Abstract

The aim of this paper is to show how scaffolding from teacher to students and that from students to students work during a sequence of language learning in which communication skills and fluency are the goals to reach. Pedagogical sequence that includes the roles of teacher in facilitating students involved in various types of learning activity and tasks has been analysed to find educational implications of the theories. Based on the data of some empirical studies, it shows that the strategy used by teacher to facilitate the activities and give corrective feedbacks is very helpful to make students focus on the goals. This is how scaffolding from teacher works efficiently in classroom learning. Pair and group work interactions among students with different characteristics also prove how scaffolding from students to students are present and contributes to the communication skills development. However, not all students can provide useful scaffolding for others due to their different personality. In conclusion, the teacher’s scaffolding and students’ scaffolding occur in different patterns (Storch 2002: 119-158). Teacher’s scaffolding comes in a various range of support, while student’s scaffolding might be helpful, but not as significantly as that of the teacher.

The full paper can be accessed here Edulink Vol .1 No. 2 (2019)


Rabu, 30 Desember 2020

Buku Single Keduaku [RESENSI]

 

 

Belajar Bahasa Inggris dari Para Cendekiawan dan Profesional Sukses: Serangkaian Wawancara

 

Ini buku sederhana yang kumpulan wawancara saya dengan kawan-kawan hebat saya saat menempuh pendidikan jauh di negeri seberang. Walaupun sederhana, isinya penuh dengan cerita inspirasi otentik mengenai perjuangan orang hingga pada sebuah titik impian mereka. Ketika membacanya, kita tidak hanya disuguhkan pengalaman tentang belajar Bahasa Inggris saja, tetapi seolah kita juga akan terbawa angan seperti sedang mengikuti sebuah seminar kerja dan beasiswa.

Inspirasi: Sarasehan Pendidikan Indonesia di Oxford University, 27 April 2017 

Penulis                 : Aziza Restu Febrianto
Desain sampul     @esabiwibowo
Ukuran                 : 14 x 21 cm
ISBN                    : 978-623-281-080-8
Terbit                    : Mei 2020
Harga                    : Rp 105000
Penerbit              www.guepedia.com

 

Sinopsis:

Buku ini disusun sebagai obat penasaran penulis: Bagaimana orang, tanpa memiliki latar belakang pendidikan atau pekerjaan dalam bidang Bahasa Inggris, linguistik atau komunikasi lainnya, mampu dengan lancar menguasai Bahasa Inggris, sehingga berhasil menempuh pendidikan dan karir yang cemerlang di luar negeri.

Proses penyusunan buku ini melibatkan 10 pelajar S2 dan S3 Indonesia di luar negeri yang juga merupakan profesional sukses di bidangnya masing-masing. Penulis mewawancarai mereka satu persatu dan menuliskan cerita inspiratif mereka dalam buku ini. Dengan membacanya, pembaca akan mendapatkan tips dan strategi praktis menguasai Bahasa Inggris termasuk TOEFL dan IELTS berdasarkan pengalaman para responden. Selain pengalaman belajar yang dibagikan, responden juga memberikan usulan, gagasan, dan ide tentang pembelajaran Bahasa Inggris yang efektif di Indonesia.

Buku elektronik (ebook) telah tersedia di PlaystoreBelajar Bahasa Inggris dari Para Cendekiawan

Rabu, 28 Agustus 2019

Buku Single Pertamaku [RESENSI]


Judul: English:The Legacy of Colonialism and New Form of Imperialism. Sejarah Bahasa Inggris dan Pengaruhnya Terhadap Dunia dan Indonesia

Penulis                     : Aziza Restu Febrianto
Penerbit                    : Penerbit Ernest
Halaman                   : xvi + 203 hlm; 14,9 cm x 21 cm
ISBN                         : 978-602-5640-65-00
Harga Normal           : 69.000 (Belum termasuk Ongkir)
.
Kebanyakan orang mungkin telah familiar dengan sebutan Bahasa Inggris sebagai Bahasa internasional, Bahasa Inggris sebagai Bahasa global atau bahkan Lingua Franca masyarakat dunia. Kita boleh saja percaya akan pernyataan itu ataupun menyanggahnya. Buku ini berusaha memberikan paparan fakta berupa sejarah dan analisa ilmiah tentang bagaimana sebuah bahasa kuno yang awalnya muncul di daratan Jerman utara, berekspansi ke kepulauan Britania dan kemudian secara cepat menyebar luas di seluruh dunia serta menjadi bahasa yang penggunaannya sangat dominan di berbagai bidang sampai sekarang. Buku ini juga secara khusus memaparkan sebuah kajian literatur tentang dominasi dan pengaruh Bahasa Inggris terhadap kebijakan bahasa, kondisi sosiokultural masyarakat dan ekosistem bahasa di Indonesia. Walaupun status Bahasa Inggris adalah asing di Indonesia, pada kenyataannya Bahasa Inggris justru menjadi bagian atau komponen dari berkembangnya identitas Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional serta bahasa lokal lainnya di Indonesia. 
.
Cara pesan : English_Nama_Alamat_Jml_No WA
.
Kirim SMS atau WA ke @penerbiternest 081231632460
.
ATAU
.
Ke penulis melalui IG message, 085815628615 (WA) dan email: restu.febrianto86@gmail.com
.
Versi E-book dapat dipesan melalui tautan berikut: Unduh E-book


What do they say about the book?

“Kemajuan teknologi dan globalisasi saat ini tentu saja semakin memperkokoh posisi Bahasa Inggris sebagai Bahasa Internasional. Bagaimana peran Bahasa Inggris di era disrupsi yang sudah ada di depan mata? Semoga buku ini berguna dan mendorong semangat  para pembaca untuk belajar Bahasa Inggris guna mengembangkan ilmu pengetahuan demi kemajuan Indonesia. Selamat membaca!”
Intan Permata Hapsari – Kepala International Office dan Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Negeri Semarang.

“Buku yang wajib dibaca! Bagi pelajar, membacanya seperti sedang kuliah Sastra Inggris.”
I Wayan Darya – Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Negeri Jakarta dan Alumni MA TESOL University College London, Inggris.

“Bagi kalian yang sedang belajar Bahasa Inggris, nggak afdol kalau ndak paham sejarah tercipta bahasanya. Nah, di buku ini diceritakan detail dengan cara yang nggak ngebosenin tentang sejarah Bahasa Inggris. Buku recommended banget pokoknya, terutama buat para pecinta Bahasa Inggris.”
Susari Anggraeni – Founder Go English Yogyakarta dan Alumni MA TESOL Queen’s University Belfast, Inggris

“Tak kenal maka tak sayang. Begitupula dengan Bahasa Inggris. Buku ini membuat kita akan lebih memahami seluk beluk dan pentingnya Bahasa Internasional ini. Sangat direkomendasikan untuk semua orang yang ingin mempelajari Bahasa Inggris dengan tujuan apapun.”

Siti Nur Fithriyati – Guru di SMPN 3 Barat Laut, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Masters Candidate at University of Nottingham, Inggris. 

Paper Seminar Nasional




FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI TARUNA PENDIDIKAN PELAYARAN DALAM MEMPELAJARI BAHASA INGGRIS SEBAGAI BAHASA KOMUNIKASI KEMARITIMAN

Aziza Restu Febrianto1, Haryani2
Program Studi KPN, Politeknik Bumi Akpelni
Program Studi Nautika, Politeknik Bumi Akpelni


Abstrak
Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dan menginvestigasi faktor apa saja yang mempengaruhi pencapaian belajar mahasiswa maritim dalam mempelajari Bahasa Inggris. Dalam penerapannya, 26 taruna dari Program studi Nautika dan Teknika Politeknik Bumi AKPELNI terlibat dalam penelitian ini. Pertama mereka diminta untuk mengisi angket terbuka (open-ended questionnaire) yang terdiri atas 10 pertanyaan untuk mencari peserta yang benar-benar representatif. Diantara 26 taruna, akhirnya terpilih 8 peserta yang mengikuti wawancara. Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dan luas, 8 peserta tersebut diminta untuk memberikan penjelasan jawaban yang mereka tulis di dalam angket. Mereka juga diminta untuk memberikan informasi lebih dan berbagi lebih banyak tentang ide, pengalaman, dan cerita mereka melalui wawancara. Keseluruhan cerita yang terekam dalam wawancara ini kemudian dianalisa dengan menggunakan pendekatan “Narrative Inquiry” dan “Critical Discourse Analysis” (CDA). Hasil penelitian ini menunjukkan 4 (empat) faktor kontributif yang mempengaruhi prestasi dan pencapaian taruna dalam belajar Bahasa Inggrs: Latar belakang keluarga, motivasi, keyakinan diri, dan pengalaman belajar. Diantara empat faktor ini, motivasi dan keyakinan diri dianggap menjadi faktor pentng yang paling kontributif.
Kata kunci: Faktor, Prestasi Mahasiswa Pelayaran, Belajar Bahasa Inggris


Paper ini dipresentasikan pada

1st National Seminar on "Kesiapan Dunia Maritim dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0" Oleh Politeknik Bumi Akpelni


Semarang, 24 Agustus 2019


Paper ini dapat diunduh di Unduh Paper Seminar


Buku Kolaborasi 2



KOMPILASI KISAH PARA PEJUANG BEASISWA LPDP merupakan karya emas hasil kolaborasi para penerima beasiswa LPDP alumni Universitas Negeri Semarang (UNNES) dari berbagai angkatan. Beragam kisah para pejuang beasiswa dihadirkan untuk memberikan inspirasi dan rujukan bagi calon penerima beasiswa LPDP. Berbagai latar belakang dan pengalaman yang berbeda para awardee (penerima beasiswa) akan memperkaya khasanah pengetahuan bagi para pembaca untuk sesegera mungkin mempersiapkan diri sebelum mendaftar beasiswa.

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) merupakan lembaga yang memiliki tanggung jawab langsung kepada Menteri Keuangan dengan berpedoman pada kebijakan Dewan Penyantun yang terdiri dari Menteri Keuangan, Menteri Ristek-Dikti, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta Menteri Agama. Beasiswa pendidikan Indonesia LPDP adalah beasiswa favorit bagi para calon Magister dan Doktoral yang akan melanjutkan studi baik dalam negeri maupun luar negeri. Selain pembiayaan studi lanjut, LPDP juga memberikan pelayanan pembiayaan pendanaan penelitian tesis dan disertasi. Pendaftaran beasiswa ini dibuka setiap tahun. Akan tetapi, seleksi yang ketat menjadikan tidak sedikit yang gagal akibat kurangnya persiapan.

Agar berhasil memperoleh beasiswa tersebut, para calon pendaftar perlu mempelajari bagaimana kisah paras penerima beasiswa LPDP. Buku ini mengungkap tentang latar belakang dan pengalaman awardee baik yang kuliah di dalam negeri maupun luar negeri. Buku ini juga berusaha membagikan pengalaman-pengalaman selama mengikuti seleksi maupun menempuh studi. Buku yang anda pegang ini merupakan kumpulan kisah dari 38 awardee LPDP alumni Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang berhasil lolos melanjutkan studi Magister dan Doktoral di dalam maupun di luar negeri.

Editor: Sutiyono dan Retno Purwaningsih



Halaman 114 - 119

Sukses Terbesar dalam Hidupku


*Oleh Aziza Restu Febrianto


Nama saya Aziza Restu Febrianto, biasa dipanggil dengan Restu. Saya lahir di sebuah desa kecil bernama Banyubiru yang terletak di sebelah barat kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Sejak kecil saya banyak belajar hidup dari kedua orang tua saya. Ayah saya yang merupakan seorang petani banyak memberikan keteladanan akan kerja keras dan kesederhanaan. Walaupun hanya menggarap sawah beberapa petak, beliau tidak pernah berhenti mengerjakan aktivitas lain yang positif setiap harinya. Dari pagi hingga sore hari saya tidak pernah melihatnya menganggur kecuali hanya ketika sedang beristirahat siang untuk sebentar saja. Ayah juga tidak pernah menggantungkan diri pada orang lain ketika merasa kesulitan. Alhamdulillah, di usianya yang sekarang lebih dari 60 tahun, beliau masih sehat dan bugar. Pelajaran lain juga aku dapatkan dari ibuku yang berprofesi sebagai guru SD. Ibu mengajari saya akan hidup mandiri dan pentingnya mencari ilmu. Keteladanan mereka inilah yang menjadi modal awal perjalanan hidup saya.

Sejak kecil saya sangat menggemari bahasa dan budaya. Program dan acara musik dan film berbahasa Inggris di TV selalu menjadi pilihan hiburan saya di waktu luang. Saat itu muncul sebuah keinginan untuk suatu saat nanti bisa mengunjungi langsung semua negara berbahasa Inggris di dunia serta mempelajari kebudayaan dan peradabannya. Kemajuan teknologi, inovasi dan kebiasaan berfikir kritis masyarakat Inggris dan Amerika Serikat selalu membuat saya penasaran. Ingin sekali mempelajari bagaimana kehidupan ekonomi, politik dan budaya mereka sehingga bisa sangat mendominasi dunia. Karena alasan inilah saya harus bisa mempelajari Bahasa Inggris dengan sangat tekun dan menjiwainya. Alhamdulillah, berkat dukungan orang tua, saya bisa mengambil kursus Bahasa Inggris sejak SD kelas 6 atau level dasar hingga intermediate ketika kelas 3 SMA. Kecintaan saya akan Bahasa Inggris ini membuat saya terpilih mewakili beberapa lomba tingkat sekolah di kabupaten. Walaupun belum pernah juara..hehe.

Karena ketertarikan saya akan Bahasa, ilmu budaya dan sosial, setelah lulus SMA saya memilih untuk mendaftar kuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dengan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi. Namun karena tidak lulus pada saat tes Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) PTN, akhirnya saya mengambil tawaran kuliah di Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui seleksi universitas. Karena di UNNES tidak ada jurusan komunikasi, akhirnya saya memilih Pendidikan Bahasa Inggris sebagai bidang studi saya. Pada awal perkuliahan di UNNES, saya meyakinkan diri untuk bisa aktif di berbagai macam organisasi internal ataupun eksternal kampus. Selain itu saya juga memilih tinggal di sebuah kos yang penghuninya adalah para aktivis mahasiswa. Dengan begitu saya bisa menjadi semakin bersemangat untuk aktif berorganisasi. Selama di UNNES, saya justru banyak menghabiskan waktu lebih untuk kegiatan organsisasi daripada perkuliahan. Bukan karena saya malas kuliah, tapi karena perkuliahan di kelas tidak berlangsung setiap hari. Banyak pengalaman, pelajaran dan koneksi ketika aktif menjadi pengurus organisasi terutama Kerohanian Islam, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ataupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti English Debating Society (EDS) dan organisasi luar kampus seperti Forum Indonesia Muda (FIM). Di sela waktu kesibukan ini, saya juga ingin belajar mandiri dengan bekerja sebagai tutor/ guru les Bahasa Inggris rumahan dan kantor serta mendaftar beasiswa untuk menambah uang saku.

Bagi saya, kesuksesan itu tidak bisa diukur dengan kekayaan atau harta yang kita miliki. Kesuksesan adalah kepuasan batin yang hanya bisa dirasakan oleh hati dan perasaan kita. Ketika kita menemukan kebahagiaan hati, disitulah kita telah memperoleh kesuksesan. Sebagai seorang muslim, saya menyebutnya keberkahan hidup. Kebahagiaan hati sering saya rasakan ketika apa yang saya cita – citakan dan impikan diwujudkan oleh Tuhan. Selama kuliah di UNNES, saya sangat menikmati ilmu yang sedang saya pelajari, sehingga muncul keinginan untuk bisa melanjutkannya ke jenjang S2 dan menjadi dosen setelah lulus nantinya. Karena orang tua tidak bisa membantu dalam hal biaya, saya memutuskan untuk tetap fokus pada kuliah sambil mencoba mencari beasiswa. Sudah ada beberapa macam beasiswa luar negeri yang saya coba seperti Australian Development Scholarship (ADS) yang sekarang namanya Australian Awards Scholarship (AAS), Fulbright dari Amerika Serikat dan New Zealand Asean Scholarship Awards (NZ-AS) dari Selandia Baru. Namun saya belum pernah beruntung untuk diterima pada salah satu dari ketiga beasiswa itu. Sedih sekali rasanya ketika mengetahui bahwa cita-cita saya belum bisa terwujud, tapi saya tidak pernah berputus asa. Dan ternyata memang Tuhan memiliki rencana lain dalam hidup saya. Pada tahun 2011, saya mendaftar program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) angkatan pertama dan Alhamdulillah diterima. Keinginan saya mengikuti program ini adalah agar saya bisa menerapkan ilmu dan keterampilan mengajar yang selama ini saya dapat dari bangku kuliah dan pengalaman kerja di tempat-tempat lain di luar Jawa yang membutuhkan bantuan. Selain bisa menikmati keindahan alam dan keanekaragaman budaya setempat, SM-3T juga memberi saya kesempatan untuk mengasah jiwa sosial saya.  Setelah program SM-3T selesai, saya mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) di UNNES dengan beasiswa. Alhamdulillah, ilmu dan keterampilan mengajar dan mendidik saya semakin bertambah dengan program ini. Pada fase inilah saya merasakan makna akan kesuksesan itu.

Selesai PPG, saya mengajar di sebuah Sekolah Internasional dan Akademi Pelayaran di Semarang sebelum akhirnya mendaftar beasiswa LPDP. Saya sangat berterimakasih kepada LPDP yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa mengenyam pendidikan di luar negeri setelah gagal dengan beasiswa yang lain. Hanya dengan modal Letter of Acceptance (LoA) saja pastinya tidak cukup untuk kuliah tanpa adanya biaya. Melalui beasiswa LPDP, akhirnya saya bisa berkuliah di universitas impian saya, University College London (UCL), Inggris yang merupakan salah satu universitas terbaik di dunia. Selama kuliah disini, saya banyak mendapatkan ilmu dan tugas seabreg tentunya..hehe. Selain ilmu yang didapat dari perkuliahan, sayapun juga mendapatkan wawasan dan pengalaman melalui kegiatan-kegiatan dan organisasi yang saya ikuti seperti komunitas Inggris-Indonesia, The Anglo-Indonesian Society dan Indonesian Scholars Forum (ISF). Karena mulai suka dengan hal yang berbau penelitian (terutama bidang pendidikan), Alhamdulillah, tahun ini kedua paper ilmiah saya diterima untuk bisa dipresentasikan pada dua buah konferensi internasional di Virginia, Amerika Serikat dan Soria, Spanyol. Keikutsertaan saya pada salah satu konferensi itu didanai oleh LPDP. Saya sangat bersyukur bahwa keinginan saya waktu kecil untuk mengunjungi dua negara super power Inggris dan Amerika serikat dan bisa belajar disana akhirnya terwujud. Sekali lagi terimakasih banyak untuk LPDP. Nah, disinilah makna kesuksesan kembali saya rasakan, yaitu mendapatkan kesempatan untuk menambah ilmu, mengasah keterampilan, bersosial dan membangun jaringan. Dengan sikap optimis, kerja keras dan pasrah hanya kepada Tuhan, saya yakin makna kesuksesan akan kembali saya rasakan di masa yang akan datang. Dan yang paling penting dari itu semua adalah bagaimana kita bisa menjadi orang yang bermanfaat melalui pencapaian-pencapaian kesuksesan yang kita peroleh selama ini. Amin.


Semarang, 28 Agustus 2019


Senin, 22 Oktober 2018

Buku Kolaborasi 1

https://atdikbudlondon.com/
Alhamdulillah, saya pernah mendapatkan kepercayaan untuk menjadi salah satu penulis dan kontributor sebuah buku berjudul "Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris," yang secara resmi diterbitkan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London pada bulan Januari 2018. Berikut ini adalah sebuah Chapter yang saya tulis. Para pembaca bisa mengunduhnya secara gratis melalui link website resmi berikut:https://atdikbudlondon.com/buku 
Selamat membaca.

Chapter 9: Program Pembelajaran Sepanjang Hayat pada Pendidikan Vokasional di Inggris.

*Aziza Restu Febrianto

Di negara Inggris, kebijakan dan wewenang pendidikan diatur oleh pemerintah di masing-masing negara bagian, England, Wales, Skotlandia dan Irlandia utara. Demikian pula dengan sistem pendidikan kejuruan yang sangat berbeda di tiap negara tersebut. Reformasi dalam sistem pendidikan vokasional di Inggris selalu menekankan belajar sepanjang hayat atau Lifelong learning. Menurut pusat informasi pendidikan kejuruan dan keterampilan negara-negara di Eropa/ The European Centre for the Development of Vocational Training (Cedefop), walaupun banyak tantangan yang dihadapi, pemerintah Inggris tetap mengupayakan reformasi sistem pendidikan demi mewujudkan kebijakan jangka panjangnya terutama strategi Lifelong learning. Beberapa tujuan kebijakan tersebut antara lain adalah meningkatkan keterampilan dasar para pekerja, meningkatkan ketuntasan pendidikan, dan mengupayakan pemenuhan pendidikan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan (Cuddy, N & Leney, T., 2005).

Sistem pendidikan vokasional yang berbasis pada tujuan belajar sepanjang hayat di Inggris sudah ditekankan sejak tahun 1998  dengan dikeluarkannya keputusan Departemen Pendidikan dan Keterampilan/ Department for Education and Skills (DfES) yang sejak tahun 2010 berganti nama dengan Department for Education (DfE). Dalam peraturan tersebut disebutkan akan pentingnya slogan ‘Lifelong Learning’ untuk secara umum menunjukkan nilai-nilai dan kebijakan tentang belajar sepanjang hayat dibawah aturan administrasi yang baru (Department for Education and Employment [DfEE], 1998). Dikeluarkannya surat hijau/ Green paper yang berjudul The Learning Age juga menunjukkan akan pentingnya belajar sepanjang hayat yang diatur oleh negara. Isi dari surat tersebut kurang lebih menekankan akan pentingnya kemampuan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan daya saing dalam bidang ekonomi di era globalisasi. Kemampuan tersebut merupakan kunci bagi sesorang untuk memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dan bersaing di dunia kerja (1998, p.18). Target utama Lifelong learning dalam pendidikan vokasional adalah mewujudkan pengembangan keterampilan vokasional yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas ekonomi, kehidupan sosial yang terbuka dan utuh (Hyland, 1999; Field & Liecester, 2000).

Program Lifelong Learning di setiap negara bagian berbeda-beda. Di England, Wales, dan Irlandia utara, Lifelong learning banyak berhubungan dengan aktivitas belajar yang dilakukan pasca sekolah formal. Pada tahun 2001, National Assembly for Wales mengeluarkan dokumen penting/ Paving dokumen berjudul The Learning Country, merumuskan program pendidikan dan belajar sepanjang hayat bagi masyarakat Wales untuk target tahun 2010. The Learning Country meneruskan strategi sebelumnya dan menghasilkan agenda untuk tahun 2010. Sedangkan di Skotlandia, makna belajar sepanjang hayat ini lebih luas melalui slogannya ‘Cradle to Grave’ yang berarti belajar dari lahir hingga akhir hayat sekaligus memperluas kesempatan belajar bagi setiap orang atau Education for all (Organization for Economic Co-operation and Development [OECD], 2003). 

Menurut National Assembly for Wales (OECD, 2003; DfES, 2005), Lifelong learning dalam pendidikan vokasional di Wales memiliki program prioritas antara lain;
        Pengembangan keterampilan dan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan produktivitas kerja melalui peningkatan kreatifitas, inovasi dan kegiatan usaha.
        Peningkatan dan perluasan kesempatan belajar termasuk keterampilan dasar.
        Peningkatan standar dalam belajar dan mengajar.

Program prioritas diatas dilaksanakan untuk mewujudkan agenda utama ketiga negara (Inggris, Wales dan Irlandia utara) yaitu:
        Memastikan bahwa semua generasi muda dapat mendapatkan keterampilan utama agar siap menghadapi perubahan jaman, menjamin keamanan dalam hidup, memperoleh banyak keuntungan dari kesejahteraan yang diperolehnya. Target utamanya adalah 90% pemuda berusia 22 tahun dapat mengikuti program pendidikan penuh yang sesuai dengan bidang keahlian mereka untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
        Menyediakan level keterampilan lebih tinggi yang diperlukan untuk inovasi bidang keilmuwan ekonomi, dengan target 50% pemudia usia dibawah 30 tahun dapat melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi pada tahun 2010.
        Memastikan para masyarakat pada usia kerja dapat memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka serta memperoleh penghargaan.
        Meneruskan peningkatan standar belajar dan mengajar di seluruh jenjang pendidikan dan keterampilan.

Untuk memastikan kualitas calon siswa dan lulusan dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar, pemerintah England, Irlandia utara dan Wales memiliki sebuah standar kualifikasi vokasional bernama The National Qualifications Framework (NQF) sejak tahun 2000. Semua program pendidikan vokasional (TVET) mengikuti aturan ini ketika menyeleksi calon siswa. 

Kebijakan pendidikan vokasional di Skotlandia memiliki sistem yang paling berbeda dengan negara bagian lainnya. Skotlandia memiliki kebijakan khusus dalam mengupayakan belajar sepanjang hayat dengan slogan, Life through learning, learning through life. Kebijakan ini sepenuhnya merupakan wewenang the Scottish Executive Enterprise, and Lifelong Learning Department (OECD, 2003). Sedangkan untuk memastikan kualitas calon siswa dan lulusan, pemerintah Skotlandia mempunyai aturan sendiri bernama the Scottish credit and qualifications framework (SCQF). Berbeda dengan NQF di ketiga negara bagian yang lain, SCQF merupakan standar kualifikasi yang lebih luas cakupannya serta memiliki tujuan jangka panjang. Kualifikasi ini sangat menekankan Lifelong learning termasuk pendidikan non-formal untuk semua orang dengan segala usia serta memiliki output yang jelas dan terukur kualitasnya. Selain mempermudah setiap orang untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan sesuai kebutuhan di sepanjang hidupnya, kualifikasi ini juga memungkinkan semua orang untuk memahami standar kualifikasi yang dibutuhkan di Skotlandia (Cuddy, N & Lenny, T, 2005).

Di Inggris, Irlandia utara dan Wales, setiap calon siswa yang masuk di sekolah vokasional harus mengambil ujian standar yang disebut the General Certificate of Secondary Education (GCSE) setelah menyelesaikan sekolah menengah pertama/ SMP atau berusia 16 tahun. Sedangkan di Skotlandia, calon siswa harus sudah memenuhi kualifikasi 4 dan 5 yang merupakan acuan standar masuk sekolah vokasional/ SMK. Kualifikasi ini biasanya juga diambil setelah mereka lulus dari SMP atau berusia 16 tahun (Cedefop, 2017).

Meskipun setiap negara memiliki aturan dan kebijakan sendiri tentang program Lifelong learning, ada beberapa prinsip aturan yang terpusat. Misalnya, Department for Education menyusun strategi bernama White Paper yang menentukan target dan strategi umum untuk memastikan bahwa setiap individu memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja dan menikmati hidupnya (OECD, 2003). Selain itu terdapat pula target nasional berlaku untuk semua negara bagian yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana masing-masing negara melaksanakan semua program Lifelong learning mereka. Target ini juga mencakup standar tingkat partisipasi dan pencapaian para siswa pada bidang yang paling ditekuninya di sekolah melalui program pengembangan Lifelong learning dan bisnis usaha (OECD, 2003).

Pemerintah Inggris/ Britania raya (UK) sangat menyadari akan tantangan jaman yang selalu berubah dan masa depan yang tidak pasti terutama bagi orang dewasa. Menurut Mike Campbell (2016), ada tiga komponen yang harus diwaspadai oleh Inggris dalam menghadapi tantangan jaman: ketersediaan keterampilan (Skills supply), permintaan keterampilan (Skills demand) dan ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan pasar (Skills mismatch).  Ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan pasar ini terjadi ketika jumlah keterampilan yang tersedia tidak sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan/ diminta oleh pasar. Gambaran tentang kondisi orang terampil dewasa di Inggris dapat dilihat melalui survey ketenaga kerjaan atau Labour Force Survey. Melalui survey ini, Bosworth (2014) dan Wilson, dkk (2016) memberikan analisa paling terkini yang menggambarkan gambaran pada tahun 2002, 2012 dan proyeksi pada tahun 2020. Analisa ini menunjukkan bahwa  selama satu dekade, dari tahun 2002 hingga 2012, orang dewasa berusia 19 sampai 64 tahun memiliki keterampilan yang sangat tinggi dan diperkirakan akan meningkat pada tahun 2020. Namun jika dibandingkan dengan 32 negara OECD lainnya, tingkat keterampilan orang dewasa pada tataran level tingkat bawah (low skills) dan menengah (intermediate skills) di Inggris cukup lemah dengan urutan peringkat ke-19 (Bosworth, 2014).  Sedangkan untuk keterampilan tingkat atas (High skills) masuk pada urutan ke-11 dari 32 negara tersebut.

Meskipun tingkat keterampilan orang dewasa terutama pada level low dan intermediate di Inggris relatif tinggi, adapun tantangan lain yang dihadapi yaitu permintaan keterampilan yang dibutuhkan di lapangan kerja. Kurangnya orang dewasa yang berketerampilan tertentu muncul ketika terdapat lowongan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keterampilan yang mereka miliki tersebut karena perubahan jaman (Vivian, dkk, 2016).  Stormer, dkk (2014) menidentifikasi 23 faktor yang mempengaruhi perubahan kondisi peluang kerja dan keterampilan baru yang dibutuhkan di Inggris. 23 faktor ini dikelompokkan menjadi 5 sub bidang:
1.      Bisnis dan ekonomi
        Perspektif ekonomi yang berubah
        Ekosistem bisnis baru
        Kekuatan bisnis dan ekonomi Asia
        Perkembangan internet yang merusak
        Pertumbungan pusat ekonomi alternatif
        Deglobalisasi
2. Sumber daya alam dan lingkungan
        Sumber daya alam yang semakin sulit didapatkan dan ekosistem yang terdegradasi
        Permasalahan dan bencana alam yang mengancam ketersediaan sumber daya alam
3. Teknologi dan inovasi
        Teknologi gabungan dan keterampilan lintas bidang
        Perkembangan ICT dan data besar
4. Masyarakat dan individu
        Keinginan kuat dalam keseimbangan kerja
        Lingkungan kerja yang selalu berubah
        Diversitas yang semakin besar
        Ketidakpastian akan pendapatan
        Perubahan demografi
        Imigrasi
        Kemudahan akses pertukaran keterampilan
        Kontrak kerja yang tidak jelas
        Values pekerja yang selalu berubah
5. Hukum dan politik
        Semakin berkurangnya ruang untuk aktifitas politik karena hambatan keuangan publik.
        Pemisahan kebijakan dari Uni Eropa/ pasca Brexit

Melihat 23 faktor diatas, Stormer, dkk (2014) menekankan peran 4 pihak di Inggris dalam menghadapai tantangan di masa depan, yaitu: pemilik usaha, pekerja, penyedia lapangan pekerjaan dan pemerintah. Peran yang paling penting dilakukan adalah fokus pada bidang seperti berikut ini:
        Perluasan dan pengembangan teknologi
        Interkonektivitas dan kolaborasi
        Penggabungan inovasi
        Peningkatan tanggung jawab individu
        Penurunan jumlah kelas menengah
        Tempat kerja generasi 4

Selain 4 pihak yang memiliki peran strategis diatas, setiap individu juga didorong untuk lebih bertanggung jawab agar terus belajar sepanjang hidupnya dan mempertimbangkan manfaat proses belajar (baca Bimrose dkk., 2016; Hughes, Adriaanse and Barnes, 2016; Schmid, 2016). Penelitian ini menunjukkan bukti bagaimana pendidikan dan keterampilan dapat mempengaruhi seseorang dalam menyesuaikan diri dengan perubahan demografi dan permintaan pasar. Oleh karena itu setiap individu perlu secara terus menerus mengasah keterampilan yang mereka miliki serta pada saat yang sama mempelajari keterampilan dan ilmu yang baru. Dengan kata lain, setiap orang di Inggris harus mampu beradaptasi dan fleksibel terhadap perubahan pasar yang tidak stabil dalam ekonomi global (Paccagnella, 2016). Keterampilan yang wajib dipelajari sepanjang hidup di Inggris adalah keterampilan yang berbasis pada pekerjaan seperti literasi, numerasi, problem-solving dalam teknologi dan digital. Semua keterampilan ini sangat penting diajarkan dalam pendidikan vokasional karena merupakan penentu akan pekerjaan dan upah yang tinggi (OECD, 2016b). Keterampilan digital juga sangat penting dalam mendorong kemajuan ekonomi Inggris (Ecorys UK, 2016; OECD 2015a). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa keterampilan literasi digital dasar harus dimiliki oleh semua orang dan diberdayakan dalam dunia kerja untuk keuntungan dan kepentingan pribadi dan ekonomi (van Deursen and van Dijk, 2010). Orang dewasa yang bekerja memerlukan keterampilan digital dasar ini untuk mereka terapkan dalam berbagai macam sektor lapangan kerja (Ecorys UK, 2016). Survey membuktikan bahwa keterampilan digital sangat berperan dalam pasar kerja setelah faktor yang lainnya seperti usia, gender, tingkat pendidikan, kecakapan literasi dan numerasi (OECD, 2016b). Di England misalnya, upah tinggi diberikan kepada mereka yang memiliki keterampilan dan pengalaman di bidang ICT (OECD, 2015a). 

Selain keterampilan digital dasar, sebuah penelitian panjang melalui the British cohort study, menunjukkan bahwa ketuntasan pendidikan sangat berbanding lurus dengan tingginya upah saat bekerja dan faktor non-kognitif lain seperti motivasi, kerja keras atau daya tahan dan kontrol diri dapat memberikan nilai tambah pada upah setelahnya (Green, dkk, 2015). Heckman dan rekannya (2006) menyatakan bahwa keterampilan non-kognitif ini lebih penting dibandingkan dengan kognitif dalam menentukan variasi upah, penguasaan keterampilan dan produktivitas dalam dunia kerja. Keterampilan non-kognitif akan mempengaruhi outcome akademik dan stabilitas finansial pada masa dewasa (Morrison Gutman and Schoon, 2013).

Perubahan pasar dan keterampilan yang dibutuhkan sangat diperhatikan oleh pemerintah Inggris dalam menyiapakan diri sebagai bangsa yang kompetitif dan inovatif. Oleh karena itu memberikan kesempatan, ruang dan fasilitas kepada masyarakat untuk mengembangkan diri, beradaptasi, dan belajar sepanjang masa sangatlah penting agar mampu mengatasi permasalahan karena perubahan jaman. Tabel berikut ini memberikan gambaran komponen penting yang harus dimiliki seseorang untuk dapat beradaptasi sepanjang karir hidupnya di Inggris.
Adaptability dimension
Attitudes and beliefs
Competence
Coping behaviours
Concern – developing a positive optimistic attitude to the future

        Plans
        Forward thinking
        Hopeful
        Connect the present and the future
         
        Planning
        Aware
        Involved
        Preparing
Control – to use self-regulation strategies to adjust to the needs of different settings and exert some influence and control on the context

        Decisive
        Independent
        Autonomous
        Decision-making
        Assertive
        Discipline
        Wilful
Curiosity – broadening horizons by exploring social opportunities and possibilities

        Inquisitive
        Self-reflective
        Future focused
        Exploring
        Experimental
        Taking risks
        Inquiring
Confidence – believing in yourself and ability to achieve your goal

        Efficient
        Self-confident
        Self-perceptive
        Problem-solving
        Persistent
        Striving
        industrious

Sumber: McMahon, Watson and Bimrose, 2012; Savickas and Porfeli, 2012; Savickas, 2013

Untuk memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan jaman atau keterampilan yang beradaptasi dengan kebutuhan, seseorang harus memiliki 4Cs: Concern, Control, Curiosity, dan Confidence. Keterampilan yang beradaptasi membuat orang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Keempat dimensi ini dapat diperoleh melalui tantangan – tantangan baru dan keinginan yang kuat untuk mendapatkan wawasan dan perspektif baru dalam hidup. Oleh karena itu, adaptasi karir ini sangat diperlukan dalam membangun perbaikan dan manajemen karir serta memberikan tantangan-tantangan baru dan kesempatan di pasar kerja yang selalu berubah. Sehingga diperlukan sistem pendidikan vokasional yang dapat mendukung masyarakat untuk mengembangkan dan membangun perbaikan karir dan adaptasi mereka. Peran pendidikan vokasional sangatlah penting terutama dalam membantu masyarakat untuk belajar melalaui kehidupan bekerja mereka dan tidak hanya untuk bertahan hidup, tapi berjuang dalam dunia kerja dan permintaan pasar selama hidupnya (Barnes, dkk, 2016).

Karena bertujuan untuk memastikan bahwa setiap orang mendapatkan kesempatan mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan dan adaptasi perubahan jaman, pemerintah Inggris juga memberikan fasilitas dan ruang pendidikan keterampilan bagi masyarakat marginal seperti para imigran, kaum difabel, lanjut usia (Lansia) dan narapidana. Salah satu contohnya adalah pembentukan Prison Industries atau program rehabilitasi seperti pelatihan kerja bagi para narapidana selama di penjara untuk menyiapkan mereka menghadapi dunia kerja pasca keluar dari penjara (House of Commons Home Affairs Committee, 2004). Tujuan utama dari Prison Industries adalah memperkerjakan para narapidana dalam kegiatan diluar penjara dan sebisa mungkin membantu mereka untuk mendapatkan keterampilan-keterampilan, kualifikasi dan pengalaman kerja agar dapat meningkatkan kesiapan dan kemampuan mereka dalam mendapatkan pekerjaan legal ketika keluar dari penjara (ibid, 2004). Manajemen Prison Industries juga harus dapat memberikan pendanaan dan keuntungan bagi organisasi penyelenggara kegiatan dan secara terus menerus mendukung program-program yang dapat menawarkan kesempatan untuk pengembangan diri bagi para narapidana (ibid, 2004). Pemerintah Inggris juga membentuk tim pembuat kebijakan dalam Prison Industries yang bertujuan untuk mengembangkan strategi kerja jangka panjang para narapidana, memperkuat jaringan dengan lembaga pelayanan penjara internal, departemen pemerintah, para pengusaha dan pihak otoritas lokal (ibid, 2004).


Kesimpulan
Merujuk pada sistem pendidikan yang ada di Inggris/ Britania Raya (UK) terutama pendidikan vokasional, program Lifelong learning atau belajar sepanjang hayat sudah cukup lama ditekankan secara resmi oleh pemerintah sejak tahun 1998. Oleh karena itu Inggris bisa dijadikan sebagai salah satu negara acuan untuk pengembangan program yang serupa di Indonesia. Penerapan program inipun juga sangat aplikatif karena penerapannya diatur dan dikembangkan oleh tiap negara bagian: England, Wales, Irlandia utara dan Skotlandia. Sebagai negara kepulauan yang memiliki sistem pemerintahan otonomi daerah, Indonesia bisa mencoba belajar dari implementasi program Lifelong learning di Inggris. Pada intinya pemerintah Inggris terus memastikan bahwa setiap individu baik yang berusia muda maupun tua, laki-laki maupun wanita memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dalam pendidikan dan terus mengasah serta mengembangkan keterampilan mereka untuk menghadapi tantangan perubahan jaman. Semua orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk menggunakan ilmu pengetahuan dan keterampilan mereka terutama dalam bidang teknologi dan digital dalam rangka menguatkan ekonomi negara di persaingan global.

Pemerintah Inggris juga sangat mengantisipasi akan tantangan perubahan jaman yang selain memiliki dampak positif bagi efektifitas ekonomi, juga dapat memberikan masalah tersendiri, terutama dalam persaingan kerja masyarakat. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara memastikan antara ketersediaan keterampilan tenaga kerja (Skills supply) dan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja (Skills demand), atau bagaimana cara agar tidak terjadi ketimpangan antara kedua hal tersebut (Skills mismatch). Oleh karena itu pemerintah Inggris mengidentifikasi faktor-faktor utama penyebab perubahan yang terjadi di dunia kerja dan pasar itu sendiri serta menentukan sikap dan langkah strategis untuk mengantisipasinya.Untuk menghadapi tantangan ini, setiap orang di Inggris diwajibkan untuk mempelajari dan mengembangkan keterampilan yang berbasis pada pekerjaan seperti literasi, numerasi, problem-solving dalam bidang teknologi dan digital. Mereka sangat meyakini bahwa keterampilan digital sangatlah penting untuk mendapatkan kesempatan kerja yang luas dan upah yang tinggi. Selain itu, mereka juga ditekankan untuk selalu meningkatkan keterampilan non-kognitif mereka seperti motivasi diri, kerja keras, daya tahan dan kontrol diri, karena semua keterampilan ini dapat menentukan variasi pekerjaan dan stabilitas finansial mereka.
Untuk menyiapkan generasi yang kompetitif dan inovatif, pemerintah Inggris juga memberikan fasilitas dan ruang penuh kepada seluruh masyarakat untuk mengembangkan diri mereka agar dapat menghadapi berbagai macam tantangan perubahan jaman. Komponen penting yang harus dimiliki oleh setiap individu di Inggris adalah 4Cs (Concern, Control, Curiosity and Confidence) agar mereka bisa beradaptasi sepanjang karir hidupnya. Selain itu, perhatian pemerintah untuk memastikan bahwa setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama dalam meningkatkan keterampilan dan dunia kerja adalah dibentuknya program dan rencana strategis kepada para kaum marginal seperti para imigran, kaum difabel, lanjut usia dan narapidana. Salah satu contoh yang paling berbeda adalah pembentukan program rehabilitasi yang bernama Prison Industries beserta tim khusus tertentu untuk memberikan pelatihan dan persiapan kerja bagi para narapidana baik di dalam maupun diluar penjara bekerja sama dengan stakeholders yang ada dan para pengusaha.

References:
Barnes, S-A. and Brown, A. (2016). Stories of learning and their significance to future      pathways and    aspirations. British Journal of Guidance and Counselling, 44: 2, 233-242.
Barnes, S-A., Brown, A., Warhust, C. (2016). Education as the Underpinning System:       Understanding the propensity for learning across the lifetime. Future of Skills and                 Lifelong Learning. Evidence Review. Foresight, Government Office for Science.
Bimrose, J., Mulvey, R. and Brown, A. (2016) Low qualified and low skilled: the need for                context sensitive careers support. British Journal of Guidance and Counselling, 44: 2,         145-157.
Bosworth D (2014) UK Skill Levels and International Competition, Evidence Report 85, UKCES.
Cambell, Mike (2016) The UK's Skills Mix: Current trends and future needs. Future of Skills of     Lifelong Learning. Evidence Review. Foresight, Government Office for Science.
Cedefop (2017). On the way to 2020: data for vocational education and training policies. Country statistical overviews – 2016 update. Luxembourg: Publications Office. Cedefop research paper; No 61.

Cuddy, N. & Lenny, T. (2005). Vocational education and training in the United Kingdom: short description. Luxembourg: Office for Official Publications of the European Communities.
Department for Education and Employment (DfEE). (1998) The Learning Age: A    Renaissance for a       New Britain (London, Department for Education and        Employment).

Department for Education and Skills. (2005). Skills: Getting On In Business, Getting           On At Work. London: DfES.
Ecorys UK (2016) Digital Skills for the UK Economy. London: Department for Business      Innovation and Skills/Department for Culture Media and Sport.
Field, J., Leicester, Mal, & Field, J. L. (2000). Lifelong learning: Education across the lifespan. London: Routledge Falmer.

Green, F., Parsons, S., Sullivan, A. and Wiggins, R. (2015) Dreaming big: Self-evaluations,               aspirations,         high-valued social networks, and the private-school earnings              premium (Working Paper 2015/9). London: Centre for Learning and Life Chances in Knowledge Economies and Societies (LLAKES), Institute of Education, University               College London.
Heckman, J.J., Stixrud, J. and Urza, S. (2006) The effects of cognitive and noncognitive abilities   on labor market outcomes and social behavior (NBER Working Paper no.12006).      Cambridge, MA, USA: National Bureau of Economic Research.
House of Commons Homes Affairs Committee. (2004). Rehabilitation of Prisonners. First             Report             of Session 2004-2005. London: The Stationery Office Limited. Volume 1.
Hyland, T. (1999). Vocational Studies, Lifelong Learning and Social Values             (Aldershot, Ashgate).

McMahon, M., Watson, M. and Bimrose, J. (2012) Career adaptability: A qualitative         understanding from the stories of older women. Journal of Vocational Behavior, 80:            3, 762-768.
Morrison Gutman, L. and Schoon, I. (2013) The impact of non-cognitive skills on outcomes for    young   people: Literature review. London: The Education Endowment Foundation.
Organization for Economic Co-operation and Development/ OECD. (2003). The Role of National Qualifications Systems in Promoting Lifelong Learning. Department for Education and Skills.
OECD (2015a) Adults, Computers and Problem Solving: What’s the Problem? OECD Skills               Studies. Paris: OECD.
OECD (2016b) Skills Matter: Further Results from the Survey of Adult Skills. OECD Skills   Studies. Paris: OECD.
Paccagnella, M. (2016) Age, ageing and skills: Results from the Survey of Adult Skills. OECD           Education Working Papers, No. 132. Paris: OECD.
Savickas, M.L. and Porfeli, E.J. (2012) Career Adapt-Abilities Scale: Construction, reliability            and measurement equivalence across 13 countries. Journal of Vocational Behaviour,           80, 661-                673.
Savickas, M. (2013) Career Construction theory and practice. In Lent, R.W. and Brown, S.D.          (eds) Career Development and Counseling: Putting theory and research to work (2nd           edition, pp. 147-183). New Jersey: John Wiley.
Schmid, G. (2016, forthcoming) A working lifetime of skill and training needs. In Warhurst, C.,     Mayhew, K., Finegold, D. and Buchanan, J. (eds). Oxford Handbook of Skills and   Training. Oxford: Oxford University Press.
Stormer E et al (2014) The Future of Work: Jobs and Skills in 2030, Evidence Report 84, UKCES.
van Deursen, A. and van Dijk, J. (2010) Internet skills and the digital divide. New Media &             Society, 13:6, 893-911.
Vivian et al (2016) UK Employer Skills Survey 2015: UK Results, Evidence Report 97, UKCES.
Wilson et al (2016) Working Futures: 2014-2024, Evidence Report 100, UKCES.