Udin
“Anak Udik Gaya Metropolis”
(Sebuah Cerita pendek
Inspirasi Nyata Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal)
Oleh Aziza Restu
Febrianto
Namaku Margono. Aku adalah seorang
guru kontrak kelahiran kota Semarang yang mendapatkan tugas mengajar selama satu
tahun di daerah 3T (Terdepan, Tertinggal, dan Terluar), tepatnya di Provinsi
Nusa Tenggara Timur. Aku sangat bahagia sekali bisa mengabdikan diri dan mengamalkan
ilmuku di tempat ini. Selain pengalaman, tentu saja banyak juga pelajaran
berharga yang akan aku dapatkan selama bertugas. Sebenarnya keinginan mengajar
didaerah terpencil dan tertinggal sudah menjadi impianku saat aku kuliah.
Melalui informasi yang aku peroleh, di daerah yang jauh dari jangkaun orang itu
sangat kekurangan guru. Banyak guru yang tidak mau ditempatkan disitu. Kalau
tidak ada guru yang mengajar, lalu bagaimana nasib para siswanya? Dan sekarang
impian itu menjadi kenyataan!
Saat pertama kali mengetahui
bahwa aku akan bertugas di NTT, pikiranku langsung melayang – layang, membayangkan
seperti apa tempat itu. Namanya saja daerah 3T, pasti itu adalah tempat yang
jauh dari keramaian dan kota atau benar – benar kampung sekali. Bahkan mungkin
saja tidak ada listrik dan sinyal.
&&&&&&&&&
Tak terasa, akhirnya aku tiba
juga di tempat tugas. Dan ternyata seperti yang aku duga sebelumnya. Sekolah tempat
tugasku itu berada di sebuah kampung yang sangat terpencil di daratan pulau
Flores, NTT. Selama di perjalanan, aku jarang sekali melihat rumah dan sawah.
Yang sering terlihat adalah kebun, hutan, bukit, dan sungai. Selain terpencil,
di kampung ini juga tidak ada listrik dan sinyal HP. Jadi suasananya benar – benar sangat sepi,
sunyi, dan udik sekali. Tapi pemandangannya sungguh menakjubkan. Jujur, aku tidak
pernah melihat pemandangan seindah ini sebelumnya.
Aku tinggal disebuah rumah milik
salah satu penduduk di kampung itu. Di siang hari, aku masih merasakan suasana
yang biasa dengan pemandangan kampung yang mempesona. Namun saat memasuki
malam, aku benar – benar terkejut! Bagaimana tidak? Selama ini aku sudah
terbiasa hidup dengan cahaya terang dan listrik yang menyala terus menerus
selama 24 jam setiap hari. Selain itu sinyal juga full sehingga ketika aku sedang merasa kesepian tinggal telfon dan sms
teman, atau main internet. Tapi sekarang aku harus hidup dalam kegelapan dan
tidak ada satupun yang bisa aku lakukan selain tidur dan mendengarkan radio.
Satu – satunya sumber cahaya yang bisa aku upayakan adalah senter dan lampu pelita.
Sebelum istirahat dan tidur, aku menyempatkan diri untuk bercengkrama sebentar dengan
warga sekitar sembari memperkenalkan diri.
“Selamat malam,
Bapak.” ucapan salamku sebagai tanda membuka sebuah percakapan.
“Malam, mas.” Salah
seorang bapak paruh baya menyambut kedatanganku dengan sangat ramah. Ternyata
bapak tua itu bukan kerabat sang pemilik rumah melainkan tetangga.
“Bapak tinggal
dimana?” tanyaku.
“Saya tinggal di rumah sebelah, mas.” Dia menjawab
pertanyaanku dengan senyum mengembang. Sepertinya percakapan ini semakin
menarik untuk dilanjutkan. Namun sebelum aku memulainya, ternyata dia lebih
duluan bertanya padaku.
“Mas dari Jawa ya?”
pertanyaannya itu menandakan seolah – olah orang jawa itu mudah sekali dikenali.
Mungkin lewat logat atau gaya bahasa yang aku gunakan.
“Iya, bapak.”
Jawabku.
“Berapa lama rencana
tinggal disini?” lanjutnya.
“Satu tahun, pak.”
Jelasku.
“Wah, lumayan lama ya
mas. Yah, beginilah Flores mas. Banyak tempat yang belum mendapatkan jatah
listrik dari PLN.” Pernyataannya ini menunukkan seolah – olah dia tahu apa yang
aku rasakan sekarang.
Tak lama kemudian dia
menambahkan, “Tapi kita disini pakai generator kok mas. Jadi ya bisa terang
walaupun hanya 4 jam saja. Bisa nonton TV juga.”
Setelah mendengar
penjelasannya, aku malah jadi heran, “Terus kenapa sekarang masih gelap pak?
Katanya memakai generator.”
“Kebetulan sedang
rusak, mas.” Jelasnya.
“Oh…begitu.” Keluhku
dengan sedikit kecewa.